Jatuhnya Afganistan ke tangan Taliban dikhawatirkan memunculkan euforia kelompok Islam radikal di Indonesia. Kelompok ini mengaitkan kemenangan Taliban dengan kebangkitan “Islam” sebagai teologi konservatif yang ditegakkan melalui pedang dan pertumpahan darah.

 

Padahal di balik kemenangan Taliban, ada tarik-menarik politik yang tidak sederhana. Memotretkan kemenangan Taliban hanya sebagai “kemenangan Islam” adalah pandangan yang naif, simplistis, dan ahistoris. Narasi melawan intoleransi harus terus digaungkan.